Cara Mengukur Tegangan Baterai

Cara mengukur tengangan baterai – Sepeti yang kita ketahui bahwa baterai laptop, AA, ABC, Aki motor atau mobil dan sebagainya, semua jenis baterai tersebut memiliki tegangan yang bisa diukur. 

Cara untuk mengukur tengangan baterai tersebut harus menggunakan multimeter manual maupun digital. 

Baterai memiliki jenis tegangan searah atau DC (Direct Current), sehingga saat dipasang jangan sampai terbalik karena pada baterai terdapat kutub positif dan kutub negatif. 

Biasanya baterai yang dijual di pasaran memiliki tegangan sebesar 1,5 Volt. Sedangkan pada baterai HP tertulis 3,7 Volt. Nah, untuk mengecek kebenaran tulisan tersebut kita bisa mencoba cara berikut.

Pengertian Baterai

Baterai adalah sebuah alat yang digunakan untuk menghimpun dan membangkitkan arus listrik, contohnya seperti pada jam, laptop, lampu senter, ponsel, motor listrik, dan lainnya. 
Sumber : jadistore.com

Baterai adalah sebuah alat yang digunakan untuk menghimpun dan membangkitkan arus listrik, contohnya seperti pada jam, laptop, lampu senter, ponsel, motor listrik, dan lainnya. 

Ketika baterai memasok daya listrik, terimal positifnya adalah katoda dan terminal negatifnya adalah anoda. 

Terminal bertanda negatif adalah sumber elektron yang akan mengalir melalui rangkaian listrik eksternal menuju ke terminal positif. 

Saat baterai dihubungkan ke beban listrik eksternal, reaksi redoks akan mengubah reaktan berenergi tinggi ke produk berenergi rendah, kemudian perbedaan energi bebas akan dikirim ke sirkuit eksternal sebagai energi listrik. 

Menurut sejarah, istilah “baterai” sebenarnya mengacu pada perangkat yang terdiri dari beberapa sel, namun penggunaannya telah berkembang untuk memasukkan perangkat yang terdiri dari satu sel. 

Baterai sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu : 

  • Baterai primer (sekali pakai), baterai ini hanya digunakan satu kali kemudian dibuang. Bahan elektroda berubah secara ereversibel selama pelepasan. 
  • Baterai sekunder (bisa diisi ulang), baterai ini bisa habis dan diisi ulang hingga beberapa kali menggunakan arus listrik yang sudah diterapkan. Komposisi asli dari elektroda bisa dikembalikan dengan cara arus balik. 

Prinsip Operasi

Baterai mengubah energi kimia langsung menjadi energi listrik. Baterai terdiri dari sejumlah sel volta. 

Masing-masing sel tersebut terdiri dari dua sel setengah, sel ini terhubung seri melalui elektrolit konduktif yang memiliki isi anion dan kation. 

Satu sel setengah termasuk elektrolit dan elektroda negatif, elektroda yang mana anion akan berpindah. 

Sel setengah lainnya termasuk elektrolit dan elektroda positif, yang mana kation akan berpindah. 

Reaksi redoks akan mengisi ulang baterai. Kation akan tereduksi (elektron bertambah) di katoda saat pengisian ulang. 

Sedangkan anion akan teroksidasi (elektron menghilang) di anoda ketika pengisian ulang baterai. Saat baterai digunakan, proses ini dibalik. 

Elektrodanya tidak bersentuhan satu sama lain, namun terhubung melalui elektrolit. 

Beberapa sel juga ada yang menggunakan elektrolit berbeda untuk tiap sel setengah. 

Sebuah separator dapat membuat ion mengalir di antara sel setengah dan mampu menghindari terjadinya pencampuran elektrolit. 

Perbedaan potensial di kutub baterai dikenal sebagai (perbedaan tegangan kutub) dan diukur dalam volt. 

Tegangan kutub sebuah sel yang sedang tidak dipakai atau melakukan isi ulang disebut dengan tegangan rangkaian terbuka dan sama dengan GGL sel. 

Sebab adanya resistensi dalam, tegangan kutub pada sel yang dipakai lebih kecil daripada tegangan rangkaian terbuka dan ketika sel diisi ulang, maka akan menjadi lebih besar daripada tegangan rangakaian terbuka. 

Besar energi yang mampu disimpan baterai dipengaruhi oleh dua hal, yaitu Tegangan baterai yang bersatuan volt dan Kapasitas baterai yang bersatuan Ah.

Untuk menghitung jumlah energi yang disimpan dapat dilakukan dengan rumus berikut ini : Energi yang disimpan (Wh) = Tegangan baterai (V) x Kapasitas baterai (Ah)

Multimeter atau Multitester

Multimeter adalah alat yang berfungsi untuk mengukur Voltage (tegangan), Ampere (arus listrik), dan Ohm (hambatan atau resistansi) dalam satu unit. 

Multimeter sering disebut juga dengan istilah Multitester atau AVOMeter (Ampere Volt Ohm Meter). 

Ada 2 jenis Multimeter dalam menampilkan hasil pengukurannya, yaitu : 

  1. Analog Multimeter (AMM).
  2. Digital Multimeter (DMM). 

Berhubungan dengan tuntutan akan keakurasian nilai penguluran dan kemudahan dalam pemakaiannya, serta didukung dengan harga yang semakin terjangkau. 

Digital Multimeter (DMM) lebih banyak dipergunakan oleh para Teknisi Elektronika atau penghobi Elektronika. 

Sesuai dengan perkembangan teknologi, sekarang sebuah Multimeter tidak hanya dapat digunakan untuk mengukur Ampere, Voltage, dan Ohm (AVO). 

Namun, juga dapat mengukur Kapasitansi, Frekuensi dan Induksi dalam satu unit (khususnya pada Multimeter Digital). 

Berikut beberapa kemampuan pengukuran Multimeter yang ada banyak di pasaran, diantaranya yaitu : 

  • Voltage (Tegangan) AC dan DC satuan pengukuran Volt 
  • Current (Arus Listrik) satuan pengukuran Ampere 
  • Resistance (Hambatan) satuan pengukuran Ohm 
  • Capacitance (Kapasitansi) satuan pengukuran Farad 
  • Frequency (Frekuensi) satuan pengukuran Hertz 
  • Inductance (Iinduktansi) satuan pengukuran Henry 
  • Pengukuran atau Pengujian Dioda 
  • Pengukuran atau Pengujian Transistor 

Bagian Penting Pada Multimeter

Pada umumnya, multimeter atau multitester terdiri dari 3 bagian penting, yaitu : 

  1. Display
  2. Saklar Selektor
  3. Probe 

Gambar dibawah ini merupakan bentuk Multimeter Analog dan Multimeter Digital beserta bagian-bagian pentingnya 

Cara Menggunakan Multimeter

Berikut penjelasan mengenai cara menggunakan Multimeter untuk mengukur beberapa fungsi dasar Multimeter seperti Volt Meter (mengukur tegangan), Ampere Meter (mengukur Arus Listrik) dan Ohm Meter (mengukur Resistansi atau Hambatan).

1. Cara Mengukur Tegangan Baterai

Pada gambar di atas, kita bisa melihat ilustrasi cara mengukur tegangan baterai menggunakan multimeter. Berikut langkah-langkah cara penggunannya : 

  1. Arahkan saklar selektor ke x10 VDC, karena tegangan baterai tersebut tidak mencapai 10 Volt. Makanya diarahkan ke x10.
  2. Lalu tempelkan pencolok merah ke kutub positif (+).
  3. Tempelkan pencolok negatif ke kutub negatif (-).
  4. Perhatikan jarum pada multimeter mengarah ke angka berapa, kita lihat pada skala nilai 0 – 10 saja supaya lebih mudah perhitungannya.
  5. Maka hasilnya yaitu, apabila jarum pada termometer menunjuk angka 1,5 maka tegangan baterai tersebut adalah 1,5 Volt.

2. Mengukur Tegangan Accu

Umumnya, tegangan aki sepeda motor dan mobil memiliki tegangan sebesar 12 V. Cara mengukurnya sama seperti cara di atas, namun kita harus merubah saklar selektor menjadi x50 VDC. 

Hal ini dilakukan karena tegangan accu melebihi nilai 10, supaya multimeter tidak cepat rusak maka selektor harus melebihi 10 V. 

Jadi, mengarahkan selektor pada multimeter merupakan hal penting dalam pengukuran. Sebab kita harus bisa memprediksi berapa kemungkinan tegangan maksimum tegangan DC yang akan diukur. 

Baterai yang diseri tegangan akan bertambah, sementara baterai yang diparalel tegangan akan tetap atau mengikuti tegangan tertinggi dari baterai. 

3. Mengukur Tegangan DC (DC Voltage)

  1. Atur posisi saklar selektor ke DCV.
  2. Lalu pilih skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Apabila kamu ingin mengukur 6 Volt, putar saklar selektor ke 12 Volt (khusus Analog Multimeter). 
  3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Probe merah dihubungkan ke terminal positif (+) sedangkan probe hitam ke terminal negatif (-). Perhatikan, pemasangan harus teliti dan hati-hati supaya tidak terbalik. 4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.

Nb : Apabila kamu tidak mengetahui tingginya tegangan yang hendak diukur, maka disarankan untuk memilih skala tegangan tertinggi untuk menghindari terjadinya kerusakan pada multimeter. 

4. Cara Mengukur Tegangan AC (AC Voltage)

  1. Atur posisi saklar selektor ke ACV.
  2. Lalu pilih skala sesuai dengan perkiraan tegangan yang akan diukur. Apabila ingin mengukur 220 Volt, maka putar saklar selektor ke 300 Volt (khusus Analog Multimeter).
  3. Hubungkan probe ke terminal tegangan yang akan diukur. Untuk tegangan AC, tidak ada polaritas negatif (-) dan positif (+) sehingga jika terbalik tidak masalah.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.

Nb : jika tidak mengetahui tingginya tegangan yang diukur, maka disarankan untuk memilih skala tegangan yang tertinggi untuk menghindari terjadinya kerusakan pada multimeter. 

5. Cara Mengukur Arus Listrik (Ampere)

  1. Atur posisi saklar selektor ke DCA.
  2. Lalu pilih skala sesuai dengan perkiraan arus yang akan diukur. Apabila arus yang akan diukur adalah 100mA, maka putarlah saklar selektor ke 300mA (0.3A).
  3. Selanjutnya putuskan jalur catu daya (power supply) yang terhubung ke beban.
  4. Kemudian hubungkan probe multimeter ke terminal jalur yang kita putuskan tadi. Probe merah ke output tegangan positif (+) dan probe hitam ke input tegangan negatif (-) beban atau rangkaian yang akan kita ukur.
  5. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter. 

Nb: Apabila arus yang diukur melebihi skala yang sudah dipilih, maka sekering (fuse) dalam multimeter kemungkinan akan terputus. Sehingga kita harus menggantinya terlebih dahulu sebelum memakainya lagi. 

6. Cara Mengukur Resistor (Ohm)

  1. Atur posisi saklar selektor ke Ohm (Ω)
  2. Lalu pilih skala sesuai dengan perkiraan yang hendak diukur. Biasanya diawali ke
    tanda “X” yang berarti “Kali” (khsus Multimeter Analog).
  3. Hubungkan probe ke komponen resistor, disini tidak ada polaritas, sehingga boleh
    terbalik.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter.

Catatan : khusus untuk Analog Multimeter, diperlukan pengalian dengan setting pada
langkah kedua.

Demikian penjelasan mengenai cara mengukur tegangan baterai ini, semoga bermanfaat. Cek juga web seputar edukasi di wisnuadi.com.

Yakin Ngga Mau Komen?